Langsung ke konten utama

BAB 8

Naresh Aditama itu remaja tampan yang mempunyai senyuman paling indah sejauh yang aku lihat dari sesama kaumnya. Ya... walaupun ia memiliki sikap sengklek tingkat tinggi— kadang.

Aku akui, laki-laki itu memang berbeda. Ia baik, pandai, sedikit peka aku kira dan ya pastinya tampan. Oke, yang terakhir ini aku tidak mengada-ngada, itu fakta yang terjadi. Sudah pernah kubilang belum? Jika memang belum, mari kuberi tahu. Seminggu lalu, ia ditembak teman seangkatan kami di kantin sekolah. Khususnya kantin lantai dua. Terang-terangan cewek manis berambut hitam legam yang tingginya hampir sama sepertiku, namun lebih tinggi tiga sentimeter itu menyatakan perasaannya pada Naresh. Aku tahu, karena pada saat moment menegangkan itu aku berada di sana. Dari gerak-gerik tangan yang tidak berhenti bergetar milik cewek yang tidak kuketahui namanya itu, pasti ia tengah menahan segala rasa gugup, takut, malu.

Rasanya ... aku dapat membayangkan, jika cewek itu aku, mungkin aku bakal mengubur diri hidup-hidup. Beruntungnya aku memiliki nyali ciut.

“Gi-gimana Resh?” Suara lembut miliknya mengalun memenuhi ruangan kantin.

Kantin atas kala itu memang cukup sepi, namun tetap saja kamu tengah menunggu respon seseorang yang kamu sukai, dengan terang-terangan kamu mengatakan kalau kamu menyukainya. Bagaimana perasaanmu jika diposisi seperti itu? Takut jika tidak sesuai harapanmu? Jelas!

Aku saja tidak berani confess!

Sialnya, Naresh justru seperti mempermainkan cewek di depannya. Laki-laki itu menarik lengan cewek tadi, yang tingginya pun hanya sebatas bahunya saja. Entah kemana Naresh Aditama membawanya pergi, aku juga tidak tahu dan akupun tak ambil pusing akan hal itu. Bukan urusanku, yang jelas aku tidak mau menyia-nyiakan mie ayamku.

Hanya untuk kali ini sih. Soalnya aku juga penasaran. Respon seperti apa yang Naresh berikan. Pasalnya, jika Naresh Aditama menerima pernyataan cinta dari anak cewek tadi. Maka, aku harus siap untuk mengubur rasa sukaku padanya.

***

Perlahan namun pasti, kugerakan tungkaiku menuju perpustakaan sekolah. Jam kosong kali ini, kugunakan untuk tidur di perpustakaan. Sebenarnya, bukan untuk tidur sih hanya memenjamkan mata saja. Karena nyatanya, aku tidak benar-benar tidur.

Aku dapat merasakan saat kursi sampingku tengah ditarik. Memang aku memilih bagian belakang perpustakaan untuk beristirahat. Bagian ini jauh dari Kak Maria selaku pustakawan sekolah kami. Jadi,  aku tidak perlu takut untuk ditegur. Mungkin Kak Maria juga lelah akan sikapku yang sering numpang tidur di tempat kekuasaannya ini.

Lupakan tentang Kak Maria, mari kita kembali ke topik.

Sejujurnya aku cukup hapal dengan wangi parfum seseorang yang kini tengah berada di sampingku. Tentu saja itu bukan Kalil, cowok tengil itu mana mau masuk perpustakaan. Itu tempat keramat bagi dirinya setelah rumah sakit.
Jadi tanpa repot-repot membuka mata pun aku tahu itu Naresh Aditama.

“Saya tahu kamu cuma pura-pura tidur.”

Sial! Sial! Sial!

Kenapa juga ia harus muncul?

“Saya bisa aduin kamu ke Kak Maria kalo ada siswi yang lagi tidur di sini. Siap-siap aja kamu bakal kena hukuman.”

Spontan aku menegakkan badan. Aku tidak mau dihukum Kak Maria lagi. Sebab wanita berusia 30 tahun itu tidak memandang bulu walaupun sudah kujelaskan kalau mungkin saja beliau sudah lelah akan diriku yang sering tidur di sini.

Naresh Aditama terkekeh. Langsung kupelototi dirinya. “Gak lucu!” kataku penuh kesal.

“Gak lagi ngelucu.” Aku mendengus, terserah dirinya mau berbuat apa. Aku tidak peduli, serius!

Walaupun ada setitik rasa senang ia kemari, namun untuk kali ini aku tidak ingin bertemu dengannya. Apalagi mengingat pertemuan terakhir kami beberapa waktu lalu di jembatan. Betapa bodohnya aku menangis di depannya.

Catat. Kamu. Menangis. Di depan. Orang. Yang. Kamu. Sukai.

Sangat-sangat bodoh!

Alangkah lebih baik aku dan Naresh seperti dulu saja. Hanya kenal nama, tanpa perlu adanya interaksi.

“Bisa nggak gak usah duduk di sini. Banyak bangku kosong, kenapa kamu harus di sini?”

“Bisa nggak kamu nggak ngatur-ngatur saya? Terserah saya dong mau duduk di mana aja. Lagipula perpustakaan tempat umum.”

Aku kalah telah. Aku memilih diam, tidak mau terkena omelannya lagi. Sebab, hal semacam ini tidak baik untuk keadaan jantungku. Tiba-tiba aku jadi kesal dengan dirinya.

Siapa yang tidak kesal? Coba bayangkan sekarang, cowok yang kamu taksir ditembak oleh seseorang dan dengan entengnya setelah membawa cewek itu pergi, ia justru bersamamu sekarang. Apa kata orang yang melihat? Apa aku bakalan di cap cewek murahan tidak tahu diri? Atau justru aku bakal dianggap sebagai perusak hubungan orang?

Tentu, aku tahu betul cewek yang menembak Naresh adalah teman satu eskulnya. Oh ya ... aku pernah melihatnya beberapa kali saat menunggu Kalil yang kala itu tengah ada kegiatan ekstrakurikuler. Kebetulan Kalil itu satu eskul dengan Naresh. 

“Maaf ya Na, apa nanti nggak jadi bahan omongan anak-anak sini kalau kamu ada sama aku?” ujarku, “maksudnya gini loh kamu tahu kan tadi di kantin kayak gimana ... apa nggak seharusnya kamu sama cewek tadi daripada kamu di sini.”

“Bukan ngelarang sih, cuma aku—”

“Kenapa?” potongnya bahkan sebelum aku melanjutkan kalimatku. “Emang kenapa kalo saya di sini?” Ia menyipitkan matanya. “Saya ada ganggu kamu?”

“Hah?”

Ia menghela napas. “Bolot juga ya kamu. Perasaan saya itu urusan saya.” Dengan nada kelewat datar ia berucap. “Dan kamu nggak ada hak buat ngatur saya kemana saya mau pergi dan dengan siapa saya mau pergi.”

Hari ini ia mengatai aku bolot, hari lalu ia menyemangati diriku. Lalu besok kata apa yang keluar dari mulutnya? Sebenarnya berapa jiwa yang bersemayam di dalam tubuh Naresh?

Sekian sekon tidak ada suara yang keluar dari mulut kami. Aku memilih diam setelah kata 'bolot' keluar dari mulutnya. Katakanlah aku baperan. Entahlah aku sedikit sensitif hari ini.

Naresh sibuk dengan kegiatan membacanya, tanpa rasa penyesalan akibat ucapannya barusan yang melukai diriku. Ia masih tetap fokus dengan rentetan kata yang tersusun rapi di atas kertas itu.

Perlu diakui, selain memiliki paras yang rupawan, remaja laki-laki itu juga memiliki mulut yang ceplas-ceplos. Aku sedikit terperangah— lebih tepatnya kaget akan ucapannya. Jangan terkecoh dengan sebutan Naresh si dingin berjalan itu. Pada nyatanya, tidak demikian.

“Saya minta maaf.”

Tiga kata itu keluar dari mulut seorang Naresh Aditama.

“Saya minta maaf soal ucapan saya barusan. Jika itu melukai kamu, saya minta maaf. Bukan maksud saya ngatain kamu, cuma ... saya kebawa emosi dikit dan nggak seharusnya saya lampiasin itu ke kamu.”

“Iya nggak papa,” kataku. “Saran aja kalo lagi ada masalah coba selesain baik-baik. Takutnya ada orang bolot lagi yang dengar dari mulutmu.”

“Maksudnya?” tanya Naresh sembari mengernyitkan dahinya. “Kamu marah?” Kali ini ia bersikap seperti biasa.

“Loh enggak, siapa yang marah?”

Dia menghela napasnya kasar. “Dari nada bicara kamu, ketara sekali kalo kamu sedang marah.”

Naresh ini kelewat percaya diri atau bagaimana? Seakan-akan ia tahu saja apa isi hatiku. Jelas tebakannya meleset— sedikit meleset lebih tepatnya. Dugaannya barusan tidak salah juga tidak benar.

“Sekali lagi saya minta maaf.”

“Udah deh, nggak papa. Aku juga enggak kebawa perasaan kok. Santai aja.” Agak sakit  sih Na.

“Aku duluan kalo gitu, kayaknya kamu perlu waktu buat sendiri Na.”

Jadi ... tanpa menunggu balasan dari Naresh aku meninggalkan dirinya di perpustakaan. Sama persis saat ia meninggalkanku di jembatan malam itu. Namun, dengan keadaan berbeda, dan dengan emosi yang berbeda.

Entah apa yang dilakukannya sesaat setelah aku beranjak ... namun jika aku tidak salah dengar ia sempat mengumpat pelan. Sebelum menerima telepon dari seseorang yang tidak kuketahui siapa. 


***

Finally setelah sekian bulan bisa lanjutin tulisan ini lagi. Sebenarnya sih... bagian ini sudah kutulis dari lama. Cuma, karena beberapa faktor baru bisa aku update di blog hehe. 

Last but no last, aku mau ngucapin selamat menyambut bulan puasa ya!